Tagar Bela dan Beli Produk Lokal


Pameran UMKM In Store Promotion di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, 18 November 2020. Tempo/Tony Hartawan

Industrialisasi kerakyatan di NTB kini menapaki fase menggembirakan. Setelah pemerintah menjadikannya sebagai program unggulan maka kini nampak implementasinya di lapangan. Dari Dinas perindustrian NTB muncul tagar Bela dan beli produk local. Sedangkan pelaksanaannya dilapangan muncul pula tim tunah produk local yang mecoba terus mennindaklanjuti semua kegiatan industrialisasi kerakyatan yang dilakukan oleh IKM/ UMKM NTB.

Sejalan dengan itu beberapa teman penulis, seperti produk olahan rumput laut dan produk olahan local lainnya bercerita bahwa mereka sedang diarahkan dan difasilitasi untuk menambah produksi sekaligus disambungkan pasarnya ke berbagai ritel modern yang ada, seperti Indomaret, Alfamart, Jembatan Baru dan lain sebagainya. Fenomena ini tentu saja cukup memberikan gairah yang cukup besar bagi para UMKM untuk terus bertumbuh agar proses industrialisasi berjalan. Pemerintah tidak hanya membuat program di atas kertas, tetapi juga benar-benar ada keseriusan untuk mengantarakan para pelaku industry dari awal sampai tujuan tercapai.

Bagi penulis ini adalah warna baru, karena sering muncul diskusi-diskusi dikalangan para pelaku UMKM di mana kadang pemerintah  membuat program Industrialisasi bagi masyarakat. Mulai dari pelatihan dan pemberian modal lalu seakan-akan persoalan selesai. Pada kasus ini tentu saja terjadi disorientasi karena sebanyak apapun pelatihan dan permodalan diprogramkan akan menjadi tumpul bilamana tidak ada penciptaan pasar secara sadar dan terencana.

Dalam pada itu pemerintah provinsi dalam hal ini Dinas perindustrian yang sebagai leading sector muncul sebagai lokomotif. Bela dan beli produk local dengan operasi tunah produk local merupakan tindakan operasional yang dapat menjadi pintu masuk bagi melaksanakan kelembagaan ekonomi kerakyatan secara lebih serius. Kelembagaan ekonomi itu diciptakan secara sengaja barulah akan ada aturan main yang berujung pada terciptanya kedaulatan ekonomi.

Bela dan beli produk local dengan dioperasikan oleh tim tunah produk local sangat sesuai dengan atmosfer atau kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia khususnya NTB. Mengapa demikian? Karena munculnya semangat industrilalisasi kerakyatan jauh setelah munculnya industrialisasi yang dinakodai oleh raksasa-raksasa ekonomi global. Industrilaisasi kerakyatan yang muncul setelah lama munculnya pelaku-pelaku ekonomi raksasa yang dengan kekuatan modalnya mampu menciptakan kartel (pasar dengan control harga) dari beberapa pelaku usaha menggurita, sehingga untuk menyaingi mereka sepertinya sia-sia saja. Ibarat bertriak ditengah suara bising, teriakan tidak akan pernah bisa didengar.

Kehadiran pemerintah dalam rangka melakukan pelatihan, pemeberian modal dan menusahakan akses pasar jelas merupakan bentuk ijtihad ekonomi kerkayatan yang telah lama disemaikan oleh Bapak bangsa seperti Moh. Hatta. Ia memimpikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang mempunyai kedaulatan sedniri di dalam rangka berproduksi. Impian Moh. Hatta itu memang romantic, karena masyarakat sendiri “mengetahui” apa-apa saja barang yang akan diproduksi, seberapa banyak barang yang akan diproduksi sehingga tercipta efisiensi produksi.

Nah jikalau pemerintah provinsi NTB kini berusaha membumikan impian romatika Bapak koperasi Indonesia itu maka patut menjadi kesyukuran bersama. Ini adalah tonggak baru untuk mulai. Ini adalah starting point baru bagi para pelaku industry yang nota bene terdiri dari IKM/ UMKM yang berusaha untuk eksisi  ditengah gegap –gempitanya penguasaan pasar oleh para pelaku ekonomi raksasa.

Gerakan pemerintah dapat dikatakan sbeagai gerakan moral dalam hal ini. Bagaimanapun kekuatan para pelaku ekonomi raksasa seringkali menindih para pelaku ekonomi kerakyatan. Dalam pada itu, tentu masyarakat memerlukan “orang tua”  yang sekiranya dapat melindungi, membimbing dan menunjukkan jalan bagi berjalannya kelembagaan ekonomi masyarakat itu sendiri.

Apa yang dilakukan pemerintah NTB dengan bela dan beli produk local dengan tim tunah produk local merupakan perwujudan dari  pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945. Bagaimanapun juga mengharapkan tangan-tangan tidak terlihat yang sering menjadi keyakinan para ekonom eropa sentris sulit membuktikannya, sehingga tidak ada jalan yang paling memungkinkan untuk menciptakan aturan main bagi berlangsungnya eksistensi ekonomi masyarakat adalah dengan langsung melakukan intervensi secara matang dan terencana.

Pada gilirannya, pemerintah dan masyarakat NTB dapat bermimpi menjadi pelaku-pelaku ekonomi di atas tanah sendiri. Bila ini terlaksana secara baik maka masyarkat dapat menjadi tuan di tanahnya sendiri dan tidak setahap- demi setahap dapat menjadi pemain, bukan lagi penonton di tanahnya sendiri.

Potensi NTB

Ada ribuan IKM/UMKM di NTB. Sejalan dengan itu potensi sumber daya alam (SDA) juga tersedia dan terbarukan. Setidaknya ini merupakan modal dasar bagi dilakukannya industrialisasi. Seperti yang sering diulang-ulang oleh Bapak Gubernur bahwa Industrialisasi tidak harus identic dengan adanya pabrik-parbrik besar, namun kemampuan pelaku IKM/UMKM untuk mengubah potensi SDA menjadi bernilai tambah sudah memenuhi syarat terjadinya industrialisasi.

Di sisi lain industrialisasi ini tidak mentang-mentang harus digaungkan terus, namun juga ada pra-kondisi yang menjadikannya semakin menemukan momentum. Kembali seperti yang dikatakan oleh Bapak Gubernur bahwa NTB adalah pariwisata itu sendiri, sehingga menuntut adanya tangan-tangan kreatif masyarakat untuk supaya eksistensi NTB sebagai yang tidak terpisahkan dengan pariwisata itu match dengan kondisi social-ekonomi masyarakatnya. Artinya rugi masyarakat NTB jikalau tidak memanfaatkan keberadaan NTB sebagai daerah wisata di mana masyarakatnya hanya mampu menjadi penonton, namun yang dikehendakai adalah masyarakat  mempunyai kreativitas untuk mengisi keberadaan NTB sebagai daerah pariwisata.

Bahkan momentum sirkuit mandalika juga menantang masyarakat IKM/UMKM untuk segera mengambil bagian dari keberadaanya, sehingga terdapat ketersambungan antara keduanya. Kelihatan tidak elok masyarakat NTB ketika ada fasilitas Sirkuit yang mampu mengundang masyarakat global untuk menyemut sedangkan masyarakat NTB sendiri tidak bisa memanfaatkannya secara optimal. Di sini pelau IKM/UMKM mutlak harus siap sedia.

Oleh karena itu, keberadaan bela dan beli produk local sepertinya menemukan kondisinya yang presisi. ada prasyarat-prasyarat yang mebuatnya semakin menemukan atmosfernya sehingga di harapakan bisa berjalan secara optimal.  Selamat untuk pemerintah NTB, selamat untuk Dinas Perindustrian NTB yang telah mampu menerjemahkan kebijakan industrilaisasi pemerintah NTB. 


Like it? Share with your friends!

Ahmad Efendi

Writer and Lecturer. Pendiri Komunitas Balai Tulis Literasi guna meningkatkan dan memajukan dunia literasi Indonesia khususnya Provinsi Nusa Tenggara Barat.