Sabun Cuci Piring MONES, Perjuangan Muhammad Hafiz Bangun Brand Lokal


Kalau kita cermati berbagai kebutuhan keseharian rumah tangga yang kita gunakan dewasa ini, akan kita temukan produk – produk dengan berbagai merek yang sudah sangat populer di masyarakat, di mana hampir semua produk ini dihasilkan oleh perusahaan – perusahaan besar baik yang berskala nasional maupun multinasional. Seperti alat pembersih baik pembersih lantai ruangan maupun pembersih kamar mandi, pembersih badan seperti sabun, shampoo, pasta gigi, juga pembersih pakaian maupun sabun pembersih untuk peralatan pecah belah, dan sebagainya. Berbagai produk tersebut sudah bisa kita katakan sebagai kebutuhan pokok karena digunakan setiap hari oleh hampir semua anggota keluarga. Di sisi lain hampir tidak pernah kita temukan lagi cara – cara yang bersifat tradisional dalam pemenuhan berbagai kebutuhan tersebut, seperti penggunaan abu gosok untuk membersihkan peralatan pecah belah maupun peralatan masak, penggunaan ampas parutan kelapa untuk mengepel lantai, atau penggunaan merang padi untuk mencuci rambut.

Karena sudah demikian lekatnya kita dengan berbagai produk hasil pabrikan besar tersebut, maka ketika muncul produk sejenis dengan merek yang baru kita kenal jarang sekali akan timbul keinginan untuk mencobanya. Dengan serta merta akan muncul persepsi bahwa produk baru tersebut adalah buatan pabrik kecil yang kualitasnya jauh di bawah produk – produk yang sudah kita kenal dan kita gunakan sebelumnya. Di sisi lain pada kalangan pelaku usaha di daerah terutama pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) pun berkembang persepsi bahwa mereka tidak mungkin membuat produk – produk semacam itu karena membutuhkan teknologi tinggi yang bagi sebagian besar mereka tidak terjangkau baik dari sisi akses maupun kemampuan permodalan. Sehingga kita lihat bisnis yang digeluti sebagian besar pelaku UKM lebih banyak berkisar pada sektor kuliner dan pangan olahan, kerajinan dan fashion.

Di tengah kondisi yang seperti itu, maka apa yang dilakukan oleh Muhammad Hafiz dengan memproduksi sabun pencuci piring bisa kita sebut sebagai sebuah langkah yang berani. Bagaimana tidak, di pasar dia tidak hanya berhadapan dengan ketidakpercayaan masyarakat konsumen, tetapi mau tidak mau mesti berkompetisi secara langsung dengan merek – merek sabun pencuci piring produksi pabrik besar yang sudah akrab di benak  masyarakat. Atau kalau dalam istilah pemasaran, produk yang dihasilkan mesti bersaing secara “head to head” dengan produk sejenis yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat luas.

Menyadari hal tersebut maka sosok yang beberapa tahun sebelumnya pernah malang melintang dalam dunia jurnalistik di daerah ini mesti berpikir keras untuk membuat produknya bisa diterima masyarakat. Pertama yang dilakukan adalah membuat produk dengan kualitas yang sama atau paling tidak mendekati dengan kualitas produk yang sudah ada. Bagi pengusaha kecil yang berada di daerah yang jauh dari pusat – pusat industri besar tentu ini bukan hal yang mudah. Hafiz membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun untuk melakukan upaya perbaikan terus – menerus hingga ditemukan formula yang menghasilkan produk seperti saat ini yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan konsumen. Bahkan untuk semakin menguatkan fungsi dan manfaat yang dihasilkan dalam sabun pencuci piring ini ditambahkan pula bahan alami yang secara tradisional sudah digunakan sebagai bahan pencuci oleh masyarakat berbagai daerah di Nusantara yaitu buah Lerak (Sapindus Rarak) atau dalam Bahasa Sasak (bahasa daerah masyarakat asli Lombok) disebut Sowot.

Salah satu hal terpenting dalam sebuah produk adalah kemasan.

Setelah kualitas produk, hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemasan. Begitu pentingnya kemasan dalam pemasaran suatu produk, hingga bahkan di tengah masyarakat terdapat kalimat gurauan “yang penting kemasannya”, di mana kira – kira maksudnya kalau kemasannya sudah bagus, isi boleh nomer dua. Hal ini betul – betul disadari oleh Hafiz, sehingga segenap sumberdaya yang dimiliki pun dicurahkan untuk memenuhinya. Saat ini kemasan utama produk sabunnya adalah dalam bentuk sachet dengan ukuran isi 125 mililiter. Dengan bentuk, ukuran maupun desain yang dihasilkan, ketika sudah dipajang di outlet – outlet bersanding dengan produk sejenis dari pabrikan besar pembeli tidak mengira kalau sabun yang ini dihasilkan oleh usaha kecil atau industri rumahan di Pagutan, salah satu kampung tradisional di Mataram.

Di samping kemasan, yang tidak kalah penting dalam upaya membangun minat dan ketertarikan konsumen terhadap suatu produk adalah merek. Unik, mudah diingat, mewakili citra produk yang ditawarkan, dan juga menyentuh emosi atau sisi psikologis konsumen adalah sebagian syarat – syarat yang harus ada dalam suatu merek untuk bisa mendapat tempat di benak para konsumen. Dengan pemikiran dan pemahaman seperti itu Hafiz memberi merek MONES pada sabun pencuci piring yang diproduksinya. Dalam Bahasa Sasak Mones berarti bersih. Sebuah istilah yang sangat tepat mewakili citra yang tengah dibangun atas produk ini. Walaupun sebagai seorang pengusaha Hafiz juga memiliki cita – cita besar bahwa produk ini pada saatnya nanti akan ikut mewarnai pasar nasional setelah menjadi brand yang kuat di daerah NTB, istilah dalam Bahasa Sasak yang digunakan sebagai mereknya menunjukkan di mana dan oleh siapa brand ini dibangun. Sekaligus untuk membangun kedekatan secara emosional masyarakat konsumen yang ada di Lombok bahwa ini “produk tetangga kita, hasil perjuangan teman dan saudara – saudara kita”.

Berbicara tentang peluang pasar bagi produk sabun pencuci piring ini menarik apa yang menjadi dasar perhitungan yang disampaikan Hafiz kepada Besiru,com di rumah sekaligus tempat produksinya baru – baru ini. “Kita asumsikan sekitar 4,5  juta penduduk NTB ini kalau satu rumah tangga terdiri dari 4 (empat) atau 5 (lima) orang berarti kita punya kurang lebih 1 (satu) juta rumah tangga. Kalau satu rumah tangga ini membutuhkan sabun pencuci piring 3 sachet dalam seminggu berarti dalam satu minggu itu kita punya potensi pasar sekitar 3 (tiga) juta atau dalam sebulan ada potensi kebutuhan sabun pencuci piring sebesar 12 (dua belas) juta sachet. Kalau kita mau memenuhi 10 % saja dari kebutuhan itu berarti kita mesti produksi 1,2 juta sachet. Mones ini kekuatan produksinya sekarang rata – rata 2.500 sachet per hari, kalau sebulan kita kerja 25 atau 26 hari berarti ada sekitar 625 – 650 ribu sachet yang kita produksi. Satu persen pun belum sampai kemampuan kita dibanding potensi pasar yang ada,” jelasnya. “Itu belum kita hitung kebutuhan warung makan termasuk tenda – tenda kaki lima, hotel, rumah sakit, perkantoran. Bisa anda bayangkan kira – kira berapa besar pangsa pasar bisnis ini. Itu kita baru bicara NTB, belum kita bicara nasional” lanjutnya lagi menambahkan. 

Mencermati perhitungan dan asumsi – asumsi yang disampaikan Hafiz di atas kita menjadi tidak heran kalau perusahaan – perusahaan yang menghasilkan kebutuhan harian masyarakat (consumer goods) telah bercokol sebagai raksasa – raksasa yang sangat berpengaruh dalam percaturan bisnis baik nasional maupun internasional. ”Masalahnya kan selama ini kita menganggap barang – barang itu membutuhkan teknologi tinggi dalam proses produksinya. Padahal menurut saya sekarang ini semua bentuk teknologi atau mesin – mesin itu bisa dan ada yang memproduksi dalam ukuran yang kecil,” kata Hafiz lagi. ”Kemudian kalau kita bicara proses atau cara membuatnya, coba saja kita lihat di youtube, semua ada tutorialnya. Mau buat sabun, pasta gigi, kecap, obat nyamuk, semua bisa kita temukan. Jadi menurut saya pada dasarnya tidak ada kesulitan yang besar, semua produk itu masyarakat bisa buat.” lanjutnya dengan bersemangat. “Bisa kita bayangkan berapa uang yang beredar di tengah masyarakat kita kalau banyak UKM yang memproduksi barang – barang itu,” tambahnya. 

Selain besaran skala bisnis secara financial, tentu tidak kalah pentingnya juga kita lihat dampak penyerapan tenaga kerjanya. Untuk menghasilkan rata – rata 2.500 sachet dalam sehari proses produksi Sabun Mones saat ini dikerjakan oleh 5 orang, kemudian untuk memasarkan juga dilakukan oleh 5 orang salesman, ditambah 1 orang tenaga administrasi, sehingga secara keseluruhan terdapat 11 (sebelas) orang tenaga kerja yang terlibat. Kemudian untuk sampai di tangan konsumen saat ini Sabun Mones sudah tersedia pada 3.000 warung, kios, toko – toko kelontong dan pada 15 grosir besar dan kecil yang tersebar terutama di Kabupaten Lombok Timur. Karena itu  yang tengah dipacu oleh Hafiz pada team pemasarannya saat ini adalah perluasan pasar di Kota Mataram dan Lombok Barat, dan selanjutnya pada akhir tahun 2020 ketika bisnisnya hampir tepat menginjak dua tahun usianya pemasaran Sabun Mones sudah menjangkau seluruh wilayah di Pulau Lombok. 

Nampaknya apa yang sering kita dengar dan sebut dengan kalimat “menjadi tuan rumah di negeri/daerah sendiri”, inilah yang sedang diperjuangkan oleh Hafiz dengan Sabun Monesnya. Senada dengan narasi yang lebih tegas sebagaimana filosofi usaha yang dia bangun yaitu “ Memanfaatkan semua sumberdaya lokal untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan nasional. Kekuatan dari dalam diri sendiri membangkitkan tekad untuk menghasilkan produk dengan kualitas teruji. Berjuang memenuhi kebutuhan kita adalah cara kami berdiri sejajar dengan kekuatan-kekuatan besar yang lebih dahulu mengepung kita dari segala penjuru.” Memang bukan perjuangan yang ringan dan mudah. Walaupun tak kalah sering pula kita dengar slogan “Bela dan beli produk lokal” dalam berbagai pidato para pemimpin kita. Karena bagi konsumen dan masyarakat banyak tidak bisa hilang pula tuntutannya pada produk yang berkualitas tapi terjangkau sesuai daya beli mereka. Sehingga dalam upaya membuat produk lokal seperti Sabun Mones ini menjadi berkualitas dan terjangkau harganya oleh daya beli masyarakat inilah nampaknya “kehadiran pemerintah” menjadi penting dan walaupun tanpa bicara soal ekspor, di sinilah wacana industrialisasi yang dicanangkan Pemerintah Propinsi NTB menemukan konteksnya


Like it? Share with your friends!

Ahmad Efendi

Writer and Lecturer. Pendiri Komunitas Balai Tulis Literasi guna meningkatkan dan memajukan dunia literasi Indonesia khususnya Provinsi Nusa Tenggara Barat.