Pemerintah Provinsi NTB: Mengajak Melihat Potensi Investasi di Teluk Saleh


Pengertian kata: mengajak dan melihat itu sebagai bahasa yang harus dimaknai antara: “investasi jadi atau tidak jadi.” Namun, trend isu investasi ini di Sumbawa berkaitan dengan pilkada ditiup oleh pendukung pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati untuk mengajak masyarakat agar menghakimi Cakada Mo – Novi. Seolah investasi Kilang Minyak tersebut sudah mulai berjalan. Padahal belum sama sekali.

Serapan informasi dari media Radar Sumbawa tertanggal 6 Agustus 2020, bahwa: “PT Palembang GMA Refenery Consortium (PGRC), sebuah usaha konsorsium akan berinvestasi di NTB, tepatnya di Kabupaten Sumbawa. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan yang bergerak di bidang Oil dan Gas ini akan menginvestasikan sebanyak Rp 150 triliun. Dahsyat. Sebuah angka yang fantastis untuk ukuran Kabupaten Sumbawa. Dana sebesar ini akan diinvestasikan untuk membangun sebuah Kawasan Ekonomi Khusus Oil dan Gas. Sebuah usaha yang baru pertama kali akan dibangun di Indonesia.”

Hal ini disampaikan oleh Gubernur NTB Zul seusai rapat di Hotel Seaside Cottage, Sumbawa, Kamis (6/8) malam. Menurut Gubernur Zul, perusahaan ini menunjukkan keseriusannya sehingga diajak langsung oleh gubernur untuk melihat langsung lahan yang ada di kabupaten Sumbawa. Gubernur NTB Zul juga mengajak sejumlah kepala dinas Provinsi NTB terkait dan Kepala Biro untuk mendampingi investor ini melihat potensi Kabupaten Sumbawa.

Demikian Radar Sumbawa 6 Agustus 2020 sudah bagus memberitakannya sebagai wawancara pertama di sekitar Teluk Saleh waktu itu. Tentu, pengertian kata: mengajak dan melihat itu sebagai bahasa yang harus dimaknai antara: “investasi jadi atau tidak jadi.” Namun, trend isu investasi ini di Sumbawa berkaitan dengan pilkada ditiup oleh pendukung pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati untuk mengajak masyarakat agar menghakimi Cakada Mo – Novi. Seolah investasi Kilang Minyak tersebut sudah mulai berjalan. Padahal belum sama sekali. 

Dengan banyak pemberitaan tentang investasi triliun itu sehingga masyarakat menafsirkan sudah melalui skema kerjasama yang sudah pasti. Padahal dalam komunikasi pemerintah Provinsi NTB dengan investor Oil dan Gas itu masih bersifat parsial dan belum jelas. Karena hanya mengajak untuk melihat.

Masalah realisasi investasi, jelas membutuhkan waktu lama. Nilai investasi sebesar 140 – 190 triliun itu membutuhkan kajian – kajian yang sangat lama. Mungkin saja memerlukan waktu bertahun – tahun untuk merealisasikannya. Investasi tidak segampang yang dipikirkan, pemerintah memiliki cara untuk penataan sistem dan plasma intinya terlebih dahulu. Kalau soal berita yang muncul itu diksi dan persfektif: melihat dan mengajak. Sehingga bisa di simpulkan investasi ini belum tentu.

Namun, sekarang isu investasi itu seolah dianggap sudah berjalan. Karena munculnya isu untuk meniup bola panas pertarungan pilkada. Terutama sasarannya pasangan Mo – Novi yang seolah akan menanggung dosa kerusakan Teluk Saleh akan investasi tersebut.

Kekuatan media sosial dihembus agar masyarakat menghakimi pasangan Mo – Novi. Apalagi seorang Gubernur NTB kakak kandung dari Calon Wakil Bupati Sumbawa Dewi Noviyani. Tentu isu ini dijadikan untuk menghujat pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

Para pendukung Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa kurang lebih 3 hari ini melakukan blafing dan negatif campaign terhadap pasangan Mo – Novi. Padahal, Pertimbangan investasi Oil Refinery ini terdapat tiga faktor yakni: pertama kedalaman laut, kedua ketersediaan lahan. Ketiga wilayah atau kawasan konservasi lingkungan laut.

Ketiga faktor tersebut, merupakan dalam pertimbangan yang matang. Karena Teluk Saleh terikat pada rekomendasi UNESCO sebagai akurium dunia. Jelas, posisi konservasi lebih penting daripada investasi. Namun, perlu juga diketahui bahwa tidak semua wilayah Teluk Saleh merupakan kawasan konservasi.

Yang dimaksud kawasan konservasi adalah pemanfaatan sumber daya secara bijaksana untuk mempertahankan ketersediaannya secara berkesinambungan, sehingga penggunaan sumber daya tersebut diatur dan dilindungi. 

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Ungkungan Hidup, yang dimaksud dengan konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbarui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam terbarui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.
Jadi investasi 140 – 190 Triliun itu bukan termasuk melanggar kawasan konservasi karena konsep investasi Oil Refinery adalah bagian dari pengelolaan Teluk Saleh pada sumber daya alam terbarui dan perbaharui.

Maka pasangan calon yang meniup isu ini agar banyak membaca secara detail mulai dari regulasi yang ada hingga kajian pada aspek keberlangsungan. Sehingga isu investasi versus konservasi ini tidak digunakan untuk menjatuhkan calon pasangan lainnya. Karena sesungguhnya isunya sangat dangkal dan tidak berdampak pada Mo -Novi.


Like it? Share with your friends!

Rusdianto Samawa
Pelaku usaha di bidang kelautan sekaligus sebagai Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI).