Berkunjung ke Desa Wisata Setanggor, Liburan Bernuansa Religi


Desa Setanggor terletak  sekitar 5 Km dari bandara LIA (Lombok International Airport) ke utara. Dalam kesenyapannya tidak ada yang menyangka jikalau Desa ini menyimpan berbagai macam potensi wisata yang layak dikembangkan, layak jual dan  sekaligus sangat layak untuk dikunjungi. Ini tidak lain disebabkan oleh adanya kelebihan-kelebihan tersendiri dari keberadaan Desa Setanggor, di samping itu kelebihan-kelebihan tersebut memang dapat menjadi alternatif pariwisata dunia yang mungkin dinilai sebagaian orang cenderung monoton seperti wisata pantai yang sudah lama menjadi obyek wisata.

Di desa Setanggor para wisatawan dapat mengunjungi beberapa macam spot /obyek wisata yang diyakini akan memanjakan para wisatawan yang datang berkunjung. Misalnya terdapat wisata persawahan (pertanian), wisata peternakan (pembuatan Bio Urine dan Kompos), Wisata Agro, Wisata Seni Budaya, Wisata Perkebunan, Arena Permainan tradisional, Memancing ikan di Pinggir Sawah, Dinner di atas rakit mengapung, Wisata Edukasi (English Fun)  dan lain-lain.  Anugerah alam dan kondisi lingkungan Desa Setanggor  ini memang sungguh besar yang harus disyukuri oleh masyarakat. Di sisi lain  masyarakat harus bersyukur dengan adanya modal sosial. Betapapun besar potensi alam Desa Setanggor jikalau tidak ada gerak langkah yang sama di antara masyarakatnya maka ia akan tetap menjadi potensi yang terpendam seperti emas dalam tanah yang terbiarkan begitu saja.

Nah, emas terpendam itulah yang telah dibuka dan dielaborasi oleh Ida Wahyuni, seorang perempuan (29 tahun). Sosok Ibu Ida Wahyuni seorang perempuan yang lincah dan smart melakukan berbagai rekayasa alam dan sosial yang ada di Desa Setanggor. Sosok Ibu Ida Wahyuni adalah sosok perempuan tangguh, sungguh ini adalah kelebihan yang jarang ada di dalam masyarakat. Apalagi dalam tradisi masyarakat Lombok yang lebih bercorak patriarki.   

Namun demikian sosok Ibu Ida Wahyuni merupakan bagian dari  pengecualian di masyarakat. Di tambah lagi ia hidup di lingkungan Desa yang mana tingkat intelektual masyarakatnya tentu tidak setinggi kapasitas penduduk urban atau sub urban. Di sini tidak hendak melakukan deskripsi peyoratif. Hanya hendak menggambarkan bahwa dialektika masyarakat desa memang umumnya mempunyai kapasitas relativ rendah, sehingga dalam rangka berkomunikasi dan mengusulkan sebuah ide atau gagasan diperlukan teknik dan waktu  untuk mendapatkan respon positif.

Apalagi ide ini adalah ide yang sedikit beda di mana Ibu Ida harus mampu memberikan penggambaran tentang keinginan dan kemauannya di hadapan para masyarakat desa Setanggor mengenai pariwisata. Mendengar kata pariwisata dalam pandangan umum masyarakat identik dengan para bule-bule dari manca negara yang datang dengan culture sedemikian rupa, sehingga terbayang bahwa mereka adalah orang-orang yang berbeda. Mensiasati frame masyarakat ini Ida Wahyuni bersama-sama dengan pemerintah Desa melakukan berbagai macam pendekatan kepada masyarakat yang akhirnya lambat laun ide Desa Wisata yang dicetuskan Ibu ida mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak di Desa Setanggor.

Pendekatan Ibu Ida Wahyuni kepada masyarakat sebenarnya berawal dari program-program yang ia bawa ke Desa Setanggor. Sebelum ibu Ida Wahyuni sampai pada ide Desa wisata, ia sebenarnya telah mempunyai program Jumat berbagi dan kerja sosial berupa membantu para pakir miskin yang ada di desa Setanggor. Beberapa jompo yang sudah tidak mampu mencarikan dirinya nafkah dibantu bahkan sampai pula pada pembuatan dan atau renovasi rumah-rumah mereka. Sedangkan Jumat berbagi adalah program membagikan nasi gratis pada orang-orang di berbagai dusun di Desa Setanggor.

Di tengah perjalanan programnya itulah terbersit ide membentuk Desa Wisata. Hal ini terinspirasi dari keberadaan Desa Setanggor itu sendiri yang menurut Ibu Ida Wahyuni mempunyai obyek-obyek yang layak dikembangkan menjadi destinasi wisata. Terdapat beberapa titik kunjungan yang bisa dibenahi agar layak jual. Ini ia liat sendiri karena ia sering berkeliling Desa untuk menjalankan program-program bantuan sosial kepada masyarakat.

Ibu Ida Wahyuni sendiri berlatar belakang pengusaha IT. Lalu ia bergabung dengan komunitas pengusaha anti riba. Usaha dan Komuniatas inilah yang sebenarnya menjadi mesin penggerak dari program-program sosial ibu Ida Wahyuni di Desa Sanggor yang sebenarnya adalah Desa asal Suami Ibu Ida.

Sebelumnya Ibu Ida tidak mempunyai niat lebih jauh kecuali membesarkan usaha IT nya yang ia rintis di Kota Mataram. Pulang ke rumah suami dalam setahun hanya beberapa kali. Sampai pada suatu ketika ia memutuskan untuk mengikuti suaminya ke Desa Setanggor dan mengenal lebih dalam Desa tersebut. Pada gilirannya peluang itu ia lihat dan mengambil inisiatif untuk menggagas Desa Wisata.

Sementara sebelum mempunyai ide Desa Wisata Ibu Ida wahyuni telah banyak berkenalan dengan masyarakat Desa Setanggor. Masyarakat telah pula dapat menilai jiwa sosialnya sehingga ketika ia mulai mengekspose ide Desa Wisatanya Ibu Ida tidak banyak mendapatkan rintangan. Ia menyampaikan idenya ke Kepala Desa dan di sambut positif dengan pembentukan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Setanggor.

Dengan terbentuknya Pokdarwis ini maka organisasi penyelenggaraan Desa Wisata pun dapat berjalan lebih efektif. Masyarakat diajak melakukan berbagai kegiatan guna menata Desa Setanggor. Mulai dari membersihkan sampah-sampah dengan bergotong royong, membenahi berbagai destinasi  yang dianggap potensial, sampai pada pembuatan berbagai perlengkapan rias destinasi wisata seperti plank-plank penanda atau penunjuk dan seterusnya. 

Profil Desa Setanggor

Luas wilayah desa Setanggor  651 hektar. Merupakan satu dari 10 Desa yang ada di wilayah kecamatan Praya Barat. Desa ini terletak 4 Km arah selatan dari kota Kecamatan.

Terdiri dari 14 Dusun, di mana di sekitar setengah dusun-dusun tersebut mempunyai keunikan-keunikan tersendiri bagi pembentukan destinasi Wisata Desa.  Kondisi Desa Setanggor dilalui oleh dua aliran sungai yang membuatnya menjadi Desa yang relatif makmur. Dalam kondisi demikian maka tidak heran Desa Wisata Satanggor ini menawarkan paket wisata petik buah seperti buah naga, pepaya dan ubi kayu.  Di samping itu dengan adanya dua sungai tanpa jeram tersebut memungkinkan Desa Setanggor memanfaatkannya sebagai tempat melepas rakit sebagai salah satu destinasi wisata pula.

Adapun penduduk Desa Setanggor berjumlah 4.037 Jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 1.947 jiwa dan perempuan sebanyak 2.090 jiwa dengan jumlah KK 1.486 yang terssebar di 14 Dusun yang ada. Umumnya mereka adalah petani dan buruh tani. Sisanya dengan berbagai macam profesi seperti guru (PNS/Suasta), TNI/Polri, pengerajin, penjahit, Sopir, Tukang Bengkel, Tukang kayu dan lain-lain. 

Paket Wisata Desa Setanggor

Salah satu homestay yang ada di Desa Wisata Setanggor.

Saat ini setidaknya terdapat sekitar 14 titik kunjungan wisata. 14 titik inilah yang terus dibenahi oleh ibu Ida dan teman-temannya yang tergabung dalam Pokdarwis Desa Setanggor. Adapun titik-titik tersebut terdapat di tempat yang terpisah-pisah (tersebar) di berbagai kekadusan yang ada seperti misalnya wisata religi dan perkebunan berada di kekadusan Setanggor Barat, wisata Permainan dan Pendidikan tedapat di Kekadusan Setanggor Timur, wisata Agro ada di kekadusan Dasan Pedek, wisata Kain Tenun ada di kekadusan Montong Waru dan seterusnya.

Bila hendak menuju ke Desa Setanggor berikut prosesi penerimaan dan pelayanannya. Kunjungan durasi 2 Jam: tamu dating disuguhi masing-masing kelapa muda dengan iringan gendang Bleq (Gamelan). Tarian selamat dating bersamaan dengan pemberian selempang tenun Desa Setanggor kepada para tamu sebagai ciri khas. Menikmati prosesi adat sorong serah atau nyongkolan adat Lombok. Wisata tenun dan makan siang di tengah Sawah.

Kunjungan durasi 4 jam: tamu dating disuguhi masing-masing kelapa muda, diiringi gamelan gendag Bleq. Tarian selmat datang dan diberikan selempang tenun Desa Setanggor. Menikmati prosesi adat sorong serah dan nyongkolan dalam adat Lombok. Wisata tenun dan makan siang di tengah sawah. Menuju wisata perkebunan (menikmati singkong bakar dicabut sendiri oleh para wisatawan sambil minum kopi special). Menikmati wisata religi yaitu membaca Al-Qur,an di Balai-balai unik yang telah disediakan di tengah-tengah sawah.

Paket dengan tema One Day Trip dan Stay One Ninght dikemas untuk menikmati pengalaman baru di Desa Wisata Setanggor. Wisatawan datang melewati jalan di pinggiran Sungai sejauh 200 Meter menuju base camp untuk mengenakan pakaian khas Lombok setelah itu keluar base camp lalu disambut oleh Musik Gendang Beleq bersamaan dengan pengalungan selempang tenun Setanggor. Menikmati Gendang Beleq dan Gamelan Class mengiringi tarian tradisional Lombok. Mengunjungi wisata ritual terus menuju ke sentra tenun khas Desa Setanggor. Berkunjung ke proses pembuatan pupuk kompos bio uruine. Setelah itu makan siang di tengah sawah dengan kuliner tradisional Lombok Tengah sambil menikmati hamparan Padi laksana permadani hijau dan kuning yang menghiasi alam. Menuju wisata Agro di mana para wisatawan dapat langsung memetik dan makan buah naga serta papaya dari pohonnya. Terakhir para tamu di bawa ke wisata perkebunan memetik ubi jalar kemudian dibakar dinikmati bersama kopi. Paket ini hanya dikenai harga Rp. 300.000,00 termasuk makan tiga kali sehari dan biaya menginap di Rumah warga. Khusus untuk makan malam disediakan river dinner (makan malam klasik di atas sungai berair tenang tanpa gelombang) beralaskan rakit bambu dengan diiringi seruling khas Lombok.

Dalam mengelilingi semua spot wisata yang masing-masing berada di beberapa kekadusan di Desa Setanggor tuan rumah telah menyediakan alat angkut tradisional Lombok yang dikenal dengan nama Dokar (Cidomo). Dengan kendaraan tradisional ini para tamu dapat langsung menikmati pemandangan lepas di sepanjang jalur Desa Setanggor yang masih alami nan damai permai tanpa kebisingan dan polusi lainnya. So that yakin berwisata ke Desa Setanggor ini akan menjadi pengalaman perjalanan wisata yang tidak dapat dilupakan.


Like it? Share with your friends!

Ahmad Efendi

Writer and Lecturer. Pendiri Komunitas Balai Tulis Literasi guna meningkatkan dan memajukan dunia literasi Indonesia khususnya Provinsi Nusa Tenggara Barat.