Baituttamkin Lumbung Bersaing Keberhasilan dari Kesungguhan Kerja di Jalan Sunyi


Sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi (14,56 % dari jumlah penduduk berdasarkan data BPS tahun 2019) maka kita mafhum dengan begitu banyaknya program bantuan kepada masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, baik bantuan dari pemerintah maupun dari berbagai organisasi non pemerintah (NGO). Bantuan – bantuan tersebut disalurkan dalam berbagai bentuk, baik yang bersifat bantuan sesaat atau bantuan yang digunakan dan langsung habis, maupun bantuan yang bersifat pemberdayaan dan berkelanjutan. 

Sebegitu banyak pemberian yang menyantuni masyarakat bawah tersebut, namun sepertinya hal itu belum juga menyelesaikan persoalan. Alih-alih menciptakan kemandirian, tak jarang yang terjadi malah menciptakan ketergantungan. Kondisi ini menjadi semacam perputaran rantai yang tidak mudah diputuskan.

Karena itu menjadi penting pemberian bantuan yang betul – betul bisa memberdayakan dan mendorong masyarakat untuk bisa membangun kemandiriannya. Untuk itu dibutuhkan model pemberdayaan yang integral dan komprehensif, yakni model bantuan dan pemberdayaan yang betul – betul menyentuh sisi “kemanusiaannya”, tidak hanya bantuan pemberdayaan yang bersifat fisik dan material akan tetapi juga mampu merubah pola pikir, membangkitkan semangat dan etos kerja, dan sekaligus membangun kesadaran spiritual.

Model pemberdayaan yang “komplit” seperti itulah yang tengah dikembangkan oleh Baituttamkin Lumbung Bersaing selama hampir sepuluh tahun ini pada beberapa kabupaten di NTB. Berawal dari satu desa di Kabupaten Sumbawa Barat dan satu desa di Kabupaten Lombok Timur, saat ini sudah melebarkan sayap operasionalnya pada beberapa desa di Kabupaten Lombok Barat dan juga Kabupaten Lombok Utara. 

Kita sebut komplit pemberdayaan yang dilakukan oleh lembaga ini karena, sebagaimana paparan di atas tentang jenis dan model bantuan yang biasa diberikan kepada masyarakat, hampir semua model tersebut diterapkan. Sejak dari penguatan mental dan semangat kemandirian, pemberian bantuan berupa pinjaman yang bersifat konsumtif untuk memenuhi kebutuhan dasar / mendesak anggota binaannya, kemudian pemberian bantuan pinjaman modal yang dilanjutkan dengan pembinaan dan pendampingan dalam menjalankan usahanya. Kesemua proses tahapan tersebut dijalankan dengan berusaha sepenuhnya menerapkan prinsip – prinsip syariah, sehingga lembaga ini bisa kita sebut sebagai Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS).

Sejarah berdirinya lembaga ini berawal ketika dalam satu kunjungan Gubernur NTB saat itu yakni DR.TGH.M. Zainul Majdi pada satu kampung di Bogor tahun 2010, dia temukan sekelompok ibu – ibu sedang berdiskusi kemudian menghitung uang sambil membaca Asma-ul Husna. Ternyata ibu – ibu ini adalah anggota majelis taklim binaan dari Baituttamkin Tazkia Madani, satu divisi dari Tazkia Group pimpinan ahli ekonomi syariah DR.Muhammad Syafi’i Antonio. Setelah mendapatkan penjelasan lebih rinci tentang lembaga ini terpikirlah untuk membuat lembaga serupa sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan tingkat kemiskinan di NTB, dan Tazkia Group pun setuju untuk bekerjasama dalam pelaksanaannya.

Setelah adanya kesepakatan dengan Tazkia Group dan berbagai persiapan sudah dilakukan maka direkrutlah beberapa orang sebagai calon pengelola lembaga yang akan dibentuk tersebut, di mana salah satunya adalah Muhammad Qazwaini yang sampai saat ini menjadi pimpinan dari lembaga yang kemudian diberi nama Baituttamkin Lumbung Bersaing. Beberapa orang calon pengelola ini dilatih langsung sekaligus melakukan pemagangan pada lembaga Baituttamkin Tazkia Madani yang ada di Bogor untuk mendapatkan pemahaman yang utuh terkait pengelolaan lembaga termasuk nilai – nilai dan filosofi yang mendasari pembentukannya.

Akhirnya pada pertengahan tahun 2011 mulailah beroperasi Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Baituttamkin Lumbung Bersaing di NTB, yang diawali di kabupaten Lombok Timur tepatnya di kecamatan Aikmel dan kabupaten Sumbawa Besar yang berada di kecamatan Taliwang. Saat itu di Lombok Timur mampu mendapatkan 695 orang yang menjadi anggota dan di KSB sebanyak 494 anggota. Pada tahun berikutnya operasional LKMS ini mulai melebar ke Kabupaten Lombok Barat, dan menjelang memasuki tahun ke sepuluh usianya saat ini telah beroperasi pula di Kabupaten Lombok Utara. Dengan kesungguhan dan kerja keras para pengelolanya, dan keberhasilan menjalankan sistem yang betul – betul mengedepankan unsur amanah dan rasa saling percaya maka saat ini  keseluruhan masyarakat yang telah menjadi anggota pada 4 (empat) kabupaten itu adalah sejumlah 6500 (enam ribu lima ratus orang),dan jumlah dana yang beredar adalah sebesar 45 (empat puluh lima milyar) rupiah. 

Secara lebih rinci proses tahapan pemberdayaan yang dilakukan oleh lembaga ini adalah :

  • Pembentukan kelompok yang kemudian dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan anggota kelompok secara berkala, di mana dalam pertemuan – pertemuan tersebut  terdapat proses pembelajaran guna memberikan pemahaman tentang pentingnya keberadaan kelompok, membangun komitmen dan tanggung jawab bersama sekaligus penanaman semangat membangun kemandirian ekonomi pada anggotanya.
  • Setelah kelompok yang dibentuk menjadi solid, di mana  komitmen, tanggungjawab dan semangat solidaritas telah terbangun, maka bagi anggota yang membutuhkan bantuan pinjaman untuk memebuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (kebutuhan dasar / mendesak) seperti untuk  membayar hutang, kebutuhan anak sekolah, perbaikan rumah dan berbagai kebutuhan konsumtif lainnya mulai digulirkan. Besar pinjaman untuk kebutuhan konsumtif ini maksimal Rp 2.500.000,- ( dua juta rupiah ). Di samping memenuhi kebutuhan konsumtif, pinjaman ini juga bisa digunakan untuk memulai usaha. Bentuk pinjaman ini disebut sebagai Pinjaman Kebajikan di mana dalam rentang waktu 1 (satu) tahun anggota akan mengembalikan sebesar pinjaman yang diterima tanpa tambahan keuntungan sama sekali bagi lembaga.  
  • Sementara bagi yang sudah memiliki usaha dapat diberikan pinjaman sebagai modal untuk peningkatan usahanya dengan besaran antara Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) hingga maksimal sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah). Pinjaman ini diberikan dengan skema bagi hasil atau yang dalam konteks keuangan syariah dikenal sebagai perjanjian mudharobah, dengan perbandingan pembagian keuntungan sebesar 70 % (tujuh puluh persen) bagi anggota dan 30% (tiga puluh persen) untuk lembaga. Dalam konteks pemberian pinjaman modal usaha ini LKMS Baitut Tamkin sudah dapat menerapkan prinsip – prinsip syariah dengan sepenuhnya, di mana jika usaha yang dijalankan anggota mengalami kerugian maka lembaga pun akan menanggung kerugian dengan besaran persentase yang sama seperti dalam pembagian keuntungan.
  • Kepada anggota yang mendapatkan pinjaman modal usaha pengurus lembaga akan diberikan pendampingan dan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan terkait usaha yang dijalankannya, di mana pembinaan tersebut meliputi berbagai aspek yang dibutuhkan dalam pengelolaan usaha seperti pemasaran, pengelolaan keuangan dan juga peningkatan kualitas produknya. 

Dengan model pendekatan yang betul – betul menyentuh aspek kemanusiaan, spiritualitas disertai dengan ketekunan serta kesabaran para pengelolanya dalam menjalankan tahapan – tahapan di atas terbukti LKMS Baituttamkin telah berhasil memberdayakan masyarakat yang dalam strata ekonomi berada pada level paling bawah atau yang sering disebut sebagai golongan akar rumput (grass root). Berhasil merubah mindset bahwa dengan semangat yang tinggi, kerja keras dan kesungguhan maka golongan akar rumput ini bisa merubah kondisi mereka, bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Selain membangun dan merubah pola pikir di atas, yang tidak kalah pentingnya adalah nilai – nilai yang berhasil ditanamkan untuk menjadi janji para anggota kelompok binaan, di mana janji itu tidak hanya terkait dengan kelompok dan pengelola, akan tetapi lebih jauh lagi adalah menjadi perjanjian mereka dengan Tuhan. Nilai – nilai janji itu adalah :

  1. Saling mengingatkan untuk selalu bekerja jujur, menepati janji, amanah dan disiplin.
  2. Saling membantu mengatasi kesulitan sesama anggota
  3. Bersama keluarga berusaha meningkatkan kesejahteraan keluarga
  4. Memanfaatkan dana Baituttamkin untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mengembalikannya tepat waktu
  5. Mendidik dan menyekolahkan anak supaya menjadi cerdas, saleh, berbakti kepada orang tua dan mengabdi kepada Allah Swt.  

Model gerakan pemberdayaan yang dilakukan oleh Baituttamkin baik yang berada di Bogor maupun di NTB ini sebetulnya bukanlah sebuah model gerakan yang pertama. Gerakan serupa telah berhasil dikembangkan di Bangladesh oleh DR Muhammad Yunus, di mana gerakan inipun telah mendunia dan bahkan Muhammad Yunus telah mendapatkan penghargaan nobel untuk karya dan prestasinya tersebut. Syafi’i Antonio sendiri bersama Tazkia Group dalam membangun dan mengembangkan Baituttamkin memang terinspirasi dari gerakan Muhammad Yunus di Bangladesh, namun dalam konsep operasionalnya terdapat perbedaan yakni diterapkannya prinsip – prinsip syariah  dalam operasionalisasi Baituttamkin, sementara gerakan yang dibangun Muhammad Yunus menerapkan sistem keuangan konvensional di mana gerakan tersebut kemudian melembaga dalam format perbankan yaitu Grameen Bank. 

Dengan diterapkannya prinsip – prinsip syariah dan model pendekatan yang betul – betul menyentuh aspek kemanusiaan maka gerakan pemberdayaan Baituttamkin Lumbung Bersaing di NTB ini bisa kita jadikan sebagai antitesa terhadap praktek – praktek ekonomi kapitalistik dan sistem keuangan konvensional yang cenderung menempatkan masyarakat pada posisi yang tidak setara dengan para kapitalis pemilik dana. Sehingga tidak berlebihan jika kita berharap dengan semakin meluasnya jangkauan operasional Baituttamkin ini bisa mengikis praktek – praktek rentenir atau yang dikenal pula dengan sebutan “Bank Rontok / Bank Subuh” di tengah masyarakat kita, terutama pada kalangan masyarakat menengah ke bawah, dan tidak berlebihan pula jika para penggerak aktivitas sejenis maupun para stakeholders lainnya menjadikan keberhasilan Baituttamkin Lumbung Bersaing ini sebagai contoh dan referensi kerjanya.


Like it? Share with your friends!

Ahmad Efendi

Writer and Lecturer. Pendiri Komunitas Balai Tulis Literasi guna meningkatkan dan memajukan dunia literasi Indonesia khususnya Provinsi Nusa Tenggara Barat.