Arus Mart Dan Produktivitas Pondok Pesantren


Ada fase baru sedang ditapaki oleh pondok-pondok pesantren di Lombok seperti yang dilakukan oleh Ponpes Nurul Muhsinin Batu Jai Lombok Tengah hari ini pada peresmian pembukaan operasional ritel moderen arusmart di jalan By pass Batu Jai-BIL. Fase baru itu adalah mencoba membangun kemandirian ponpes dengan melakukan kerjasama ekonomi dengan pihak yang mampu mensupport kemandirian tersebut. Dalam hal ini kerjasama ekonomi diwujudkan dalam bentuk membangun ritel /toko moderen seperti mart-mart modern lainnya.

Adapun brand dari mart-mart yang dibangun mengambil nama arusmart. Brand atau nama arusmart ini sedang terus berupaya melahirkan cabang-cabang baru di semua ponpes-ponpes yang ada di NTB khususnya Lombok. Gerakan dihajatkan untuk terus memperluas jaringan arusmart ini sebagai salah satu cara untuk memperbaiki kehidupan ponpes agar ponpes-ponpes yang berjumlah ratusan di NTB pelan tetapi pasti bergerak produktif.

Sedangkan di sisi lain gerakan pembangunan arusmart-arusmart di semua ponpes di NTB yang memungkinkan sekaligus dapat menjadi perjuangan ekonomi masyarakat local. Maknanya bahwa dengan membeli atau berbelanja di arusmart-arusmart maka masyarakat telah memperlancar arus ekonomi masyarakat local itu sendiri sehingga imbasnya akan berpengaruh kepada masyarakat itu sendiri. Gerakan berbelanja di arusmart merupakan wujud dari gotoong royong ekonomi masyarakat dalam rangka saling menguatkan secara ekonomi.

Hal ini juga sejalan dengan program pemerintah NTB yang tengah gencar-gencarnya merealisasikan NTB sebagai daerah dengan pelembagaan ekonomi syariah. Dalam realisasinya kerjasama ponpes-ponpes dengan pihak yang berkompeten dalam dalam hal ini pemodal arusmart dilandasi bagi hasil. Pihak arusmart mesupport lewat pengadaan barang –barang komoditas sedangkan ponpes-ponpes menyediakan etalase modern sekelas mart-mart yang sudah eksis terlebih dahulu.

System yang diterapakn jikalau merujuk pada tradisi islam maka di sini di kenal istilah syirkah (persekutuan usaha). Rasulolloh Muhammad SAW pernah mecontohkan syrikah ini ketika dahulu berbisnis di usia mudanya. Sebagai pedagang Nabi Muhammad tidak memegang modal sendiri melainkan modal-modal dari beberapa orang. Modal-modal yang terkumpul kemudian dipakai berniaga dengan keuntungan bagi hasil untuk para pemilik modal. Syirkah antara ponpes-ponpes dengan pemilik modal seperti arusmart merupakan realisasi dari keinginan bersama masyarakat NTB untuk menjadi daerah laboratorium ekonomi syariah. Bahkan di tahun 2020 ini NTB terpilih sebagai tuan rumah festival ekonomi syariah. Hal ini pantas menjadi kegembiraan bersama agar ke depannya NTB semakin dapat diandalkan dalam pembangunan ekonominya berbasiskan syariah sehingga dari sisi norma sesuai dengan tradisi islam dan dari sisi kemajuan ekonomi masyarakat semakin mandiri karena memang sistemnya lebih mendorong pada semangat gotong royong antara semua lapisan masyarakat.


Like it? Share with your friends!

Ahmad Efendi

Writer and Lecturer. Pendiri Komunitas Balai Tulis Literasi guna meningkatkan dan memajukan dunia literasi Indonesia khususnya Provinsi Nusa Tenggara Barat.